antropologi backpacking

sejarah perjalanan hemat sebagai ritus pendewasaan diri

antropologi backpacking
I

Pernahkah kita bertanya-tanya saat sedang memaksakan baju terakhir masuk ke dalam tas carrier berukuran 60 liter? Atau saat kita rela tidur di hostel murah dengan kasur berderit dan teman sekamar yang mendengkur keras? Mengapa kita bersusah payah melakukan ini? Padahal di rumah ada kasur empuk, kamar mandi bersih, dan makanan hangat. Kenapa backpacking alias jalan-jalan hemat ini terasa seperti sebuah panggilan jiwa, terutama saat kita berada di usia akhir belasan atau dua puluhan? Kita rela menabung berbulan-bulan hanya untuk hidup menggelandang secara estetik di negara orang. Mari kita bedah fenomena ini pelan-pelan.

II

Kalau kita pikir backpacking itu tren yang baru muncul semenjak adanya media sosial, kita mungkin akan terkejut. Sejarah manusia mencatat bahwa dorongan untuk pergi jauh dengan dana terbatas sudah ada sejak berabad-abad lalu. Mari mundur sejenak ke abad ke-17 di Eropa. Saat itu ada tradisi bernama Grand Tour, di mana pemuda bangsawan dikirim keliling benua untuk "melihat dunia" sebelum mereka mewarisi harta keluarga. Tapi, itu kan untuk orang kaya. Bagaimana dengan orang biasa?

Di Jerman, ada tradisi Wandergeselle atau journeyman. Para tukang kayu atau perajin muda diwajibkan berkelana selama tiga tahun satu hari. Mereka pergi tanpa uang sepeser pun, murni untuk belajar bertahan hidup dan mengasah keterampilan di tempat asing. Maju ke tahun 1960-an, kita mengenal Hippie Trail. Saat itu ribuan anak muda Barat menumpang bus-bus murah dari Eropa menuju Asia Selatan. Mereka mencari makna hidup, sengaja menjauh dari kenyamanan dan kemapanan orang tua mereka.

III

Sampai di sini, ada satu pola aneh yang terus berulang melintasi zaman. Kenapa harus sulit? Kenapa harus murah? Kenapa kita, sebagai manusia modern, malah secara sukarela mencari ketidakpastian? Saat kita tersesat di stasiun kereta di negara antah berantah karena salah baca jadwal, otak kita memompa adrenaline dan cortisol. Rasanya panik dan stres sekali. Tapi anehnya, begitu kita berhasil menemukan jalan keluar atau sekadar mendapatkan semangkuk mi hangat di pinggir jalan, otak kita langsung mengguyur sistem saraf dengan dopamine dalam jumlah masif.

Perasaan lega dan puasnya luar biasa. Kita mendadak merasa mandiri, merasa bisa menaklukkan dunia. Namun, ada rahasia yang jauh lebih besar di balik siklus stres-dan-lega ini. Ada sesuatu yang diam-diam sedang membentuk ulang struktur kepribadian dan otak kita tanpa kita sadari, justru di saat kita sedang menghitung sisa uang receh di kantong.

IV

Inilah temuan menarik dari kacamata antropologi dan neurosains. Backpacking sebenarnya adalah bentuk modern dari ritus pendewasaan diri atau rite of passage. Seorang antropolog bernama Arnold van Gennep membagi ritus peralihan ini ke dalam tiga tahap: perpisahan, ambang batas (liminality), dan penggabungan kembali.

Saat kita menyandang ransel dan meninggalkan rumah, kita masuk ke tahap liminality. Ini adalah fase transisi yang magis. Kita bukan lagi anak kecil yang dilindungi, tapi belum sepenuhnya menjadi orang dewasa yang mapan. Dalam ruang liminal ini, identitas sosial kita dilucuti. Tidak ada yang peduli dari keluarga mana kita berasal, apa gelar kita, atau berapa jumlah followers kita.

Di saat yang sama, otak kita dipaksa masuk ke mode neuroplasticity yang sangat tinggi. Karena lingkungan yang baru dan penuh tekanan ringan, sel-sel saraf di otak kita dituntut membentuk koneksi baru dengan sangat cepat. Ketidaknyamanan finansial saat backpacking adalah katalisnya. Memilih tidur di stasiun demi menghemat uang tiket menuntut kita mengambil keputusan taktis, mengelola emosi, dan memecahkan masalah. Jadi, kesengsaraan itu bukan sekadar efek samping dari jalan-jalan murah. Kesengsaraan itulah inti dari prosesnya. Kita sedang meruntuhkan ego kekanakan kita, untuk membangun identitas dewasa yang lebih tangguh dan berempati.

V

Jadi, untuk teman-teman yang mungkin saat ini sedang menabung mati-matian demi membeli tiket pesawat promo, atau sedang merasa kelelahan di tengah perjalanan panjang di kursi kereta kelas ekonomi, ketahuilah bahwa apa yang kita lakukan sangatlah bermakna. Kita tidak sedang melarikan diri dari realitas. Sebaliknya, kita sedang berlari menjemput versi terbaik dari diri kita sendiri.

Pada akhirnya, backpacking bukan tentang seberapa banyak stempel di paspor atau foto bagus yang berhasil kita kumpulkan. Ini tentang siapa diri kita saat kita kembali pulang. Kita berangkat dengan ransel yang berat oleh barang bawaan, namun kita pulang dengan jiwa yang jauh lebih ringan, tangguh, dan kaya akan kebijaksanaan. Selamat merencanakan perjalanan selanjutnya, teman-teman. Nikmatilah setiap proses belajarnya, termasuk saat kita harus nyasar sesekali.